Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2023

Yakin Komunikasi di Kantormu Sehat?



Pertanyaan ini wajib dijawab jujur. Jika kita merasa tidak nyaman dan tidak leluasa menyampaikan pendapat kita maka itu sudah cukup jadi indikasi bahwa komunikasi kita bermasalah. Levelnya berbeda-beda. Mulai dari ringan hingga level “sakit” dan membuat kita depresi. Di level kronis, situasi di kantor senantiasa tegang. Bukan lagi I hate Monday, tapi I hate everyday.

Komunikasi di kantor memang cukup komplek. Minimal ada empat pihak. Atasan, rekan satu tim, bawahan dan costumer atau pihak ketiga yang terkait bisnis kantor kita. Setiap pihak menuntut pola komunikasi berbeda, namun memiliki kesamaan, yakni komunikasi yang asertif.

Dalam dunia psikologi, komunikasi asertif adalah sikap mampu berkomunikasi dengan jujur dan tegas, namun tetap menghargai dan menjaga perasaan orang lain.

Direktur, manager, staf atau office boy adalah jabatan. Jabatan menempati struktur tertentu. Dalam dirinya melekat kewenangan dan tanggung jawab tertentu. Diluar itu sama saja. Jadi, tidak berarti seorang direktur karena memiliki kewenangan besar maka boleh berkata kasar dan merendahkan martabat seorang office boy karena jabatannya paling rendah.

Sikap komunikasi yang agresif hanya melahirkan iklim komunikasi yang sakit dan pasif. Team work sulit terbentuk jika sikap komunikasi yang dominan adalah agresif. Target bisa saja tercapai, tapi lebih karena prestasi individualistik. Kondisi ini rapuh dan melahirkan ketergantungan pada individu tertentu.

Mayoritas persoalan di tempat kerja berakar dari buruknya komunikasi inter personal. Setiap individu sulit untuk mengaktualisasikan dirinya. Situasinya struggle, kompetitif dan transaksional.

Dalam kondisi yang belum kronis maka seorang HR manager dapat melakukan pemulihan kondisi melalui berbagai pertemuan terbuka atau town hall meeting. Namun jika situasinya sudah kronis maka peran pimpinan perusahaan menjadi penentu.

Seburuk apapun situasinya, kita harus mempunyai komitmen personal untuk membangun komunikasi yang sehat (asertif). Lawan bicara yang agresif tidak perlu direspon pasif atau terpancing meladeninya. Disinilah pentingnya integritas. Perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Buat saya, penting untuk bersikap santun baik kepada atasan maupun bawahan. Martabat orang tidak ditentukan oleh jabatan. Santun kepada atasan bukan berarti harus menjilat. Baik kepada bawahan tidak harus menjadi sinterklas.

Saya percaya, komunikasi sehat adalah resep agar kita tetap bermartabat. Peradaban itu dimulai dari komunikasi yang equal dan menghormati hak orang lain dan diri sendiri.

Jumat, 03 Maret 2023

Pers Makin Kehilangan Arah



Jatuhnya rezim Orde Baru menjadi fase menjamurnya industri pers nasional. Tidak ada angka pasti. Tapi  dalam catatan Dewan Pers pada tahun 2018, terdapat 70.000 lebih perusahaan pers di tanah air. 70% merupakan media online. Sisanya adalah media cetak, radio, dan televisi. Angka tersebut tentunya diluar produk jurnalistik yang digarap dalam platform sosial media (instagram, blog, facebook atau YouTube).

Fenomena tersebut tentu saja melahirkan dampak positif dan negatif. Liberalisasi perijinan, tidak diikuti dengan kontrol dan perijinan berbasis kompetensi. Perusahaan media yang baru lahir umumnya tidak ditopang kekuatan finansial. Akibatnya banyak aksi premanisme berupa pemerasan, pencemaran nama baik yang dilakukan oleh oknum yang mengaku wartawan dan berlindung dibalik kebebasan pers.

Oknum tidak bertanggung jawab itu tak patut disebut wartawan. Jangankan memahami kode etik jurnalistik, menulis berita dengan kaidah penulisan yang benar pun tidak bisa. Ketika tidak ada organisasi profesi wartawan yang mau mengakui, mereka tidak kehabisan akal. Mereka pun menderikan asosiasi jurnalis sendiri, lengkap dengan AD/ ART dan kode etik sendiri. Masa bodo tidak diakui dewan pers. Ampun deh…

Persaingan ketat di Industri media dan disrupsi digital, menjadikan idealisme makin tergerus. Sebagian terjebak pada pragmatisme, bagaimana bisa hidup dan survive, syukur-syukur bisa menangguk untung. Munculah fenomena click bait, yakni strategi meningkatkan click viewers dengan cara membuat judul bombastis dan sensasional. Terkadang judul tidak terkait dengan isi. Pembaca protes? Abaikan saja. Yang penting sudah masuk ke tulisan. Makin banyak pengunjung, maka makin besar cuan didapat.

Ciri-ciri tulisan atau konten yang menggunakan click bait antara lain over promising dan under delivery. Sejumlah jurnalis mengaku prihatin dan menyebutnya sebagai kematian jurnalisme.

Click bait sebetulnya bukan fenomena baru. Di era tahun 1980’an muncul yellow journalism. Pelopornya adalah Koran Pos Kota, lampu Merah dan sejumlah media yang menjual isu kriminalitas dan seks secara bombastis bahkan cenderung vulgar. Judul berita besar dan mengabaikan kaidah penulisan. Strategi itu efektif mendulang tiras dan iklan. Kejayaannya meredup ketika terjadi disrupsi digital.

Ironisnya, meskipun banyak dikecam, sejumlah media besar juga tak jarang menggunakan click bait sebagai strategi meningkatkan jumlah pembaca. Sekelas CNN pun pernah menggunakan click bait. Ada juga media besar yang mendirikan unit usaha  media yang sepenuhnya menggunakan strategi click bait. Strategi tersebut terbukti ampuh, bahkan mampu menyingkirkan detik.com dari segi jumlah pembaca.

Click bait jadi keniscayaan bisnis. Public fugure saling maki di televisi dianggap reality show. Duuh.. pers makin kehilangan arah…

 

Rabu, 22 Februari 2023

Kamu saja.. Jangan Aku…



Sejak kecil, public speaking itu ditakuti dan tidak dianggap penting bagi pengembangan diri. Hanya ketua kelas atau anak dengan ranking tertinggi yang sering ditugaskan untuk bicara di depan umum. Kebiasaan itu terbawa hingga ke dunia kerja dan dunia dewasa. Tak jarang jika bicara di depan umum dianggap sebagai momok yang bisa membuat nervous.

Public speaking mestinya diajarkan secara dini, sejak pre school. Setiap anak pada dasarnya adalah penutur yang baik, asalkan diberikan kesempatan, kepercayaan dan penerimaan. Biarkan dia bereksplorasi di ruang imajinasinya. Tidak perlu diarahkan atau dikoreksi. Setiap anak itu jujur dan polos tidak terkontaminasi prasangka buruk.

Saya sangat berharap guru Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris menjadikan public speaking ini sebagai metode belajar. Pada dasarnya, bahasa itu adalah keterampilan. Cuma pengalaman saya sejak mengenal bangku sekolah hingga kuliah tidak demikian. Pelajaran bahasa kerap menjemukan karena disesaki hafalan dan target kurikulum. 

Akibatnya, hanya orang tertentu saja yang mampu menjadi public speaker. Umumnya orang lebih nyaman dan aman dalam posisi sebagai pendengar/ audience saja. Mereka dihantui phobia takut dicemooh, ditertawakan, nervous, blank, tidak tahu harus bicara apa. 

Orang yang memiliki kemampuan public speaking umumnya merupakan pribadi yang confidence, logis, dan punya kemampuan menulis secara baik. Orang yang memiliki keahlian menulis dengan struktur yang baik umumnya mampu bertutur secara runut dan jelas. Percayalah, public speaking itu bukan bakat, tapi kemampuan yang terus dilatih dan diasah dengan banyaknya jam terbang.

Menjadi public speaker bisa dimulai dari keluarga dan lingkungan atau komunitas. Belajarlah dari public speaker ternama seperti Bung Karno, Barrack Obama atau Steve Jobs. Mereka bisa jadi refensi. Tapi akhirnya, anda harus jadi sendiri karena hanya andalah yang mampu menyaurakan pikiran dan perasaan anda dengan baik.

Mulai sekarang janganlah mendorong punggung orang lain untuk maju. Ambilah setiap kesempatan untuk bicara di depan umum. Percayalah. Anda akan merasakan kepuasan dan energi baik seusai menyampaikan gagasan Anda. 

Cobain deh …


Selasa, 21 Februari 2023

Hormati Komitmen Anda Dengan Integritas





Sebagian besar hidup itu dihabiskan untuk bekerja. Alangkah indahnya jika pekerjaan yang kita lakukan adalah bagian dari aktualisasi diri. Apalagi jika kita merasa “kerja adalah hobi yang dibayar”. 

Malangnya, jika kita melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai. Mau cari kerja lain, tapi tidak ada lowongan. Hari demi hari dilalui dengan penuh keterpaksaan. Kerja demi untuk mendapatkan uang. Tidak ada prestasi dan kepuasan batin. 

Orang yang bekerja maksimal bahkan menjadikan pekerjaan sebagai identitas diri, misalnya Bang Dedi builder motor, Bang Roni penjahit top di Bekasi, atau Iwan Suhaya pelukis naturalis yang dikenal dengan lukisan satwanya dan lain sebagainya. Orang-orang tersebut umumnya memiliki faktor penting yang menunjang kesuksesannya yakni integritas. 

Orang yang memiliki integritas melakukan pekerjaan secara maksimal, baik diawasi oleh pimpinan/ client atau sedang bekerja sendiri. Dia punya standar tinggi dalam bekerja. Sejatinya real boss orang tersebut adalah standar yang dia tetapkan sendiri, Orang seperti ini tidak perlu “cari muka”. Pekerjaan baginya adalah “karya seni”. 

Integritas merupakan komitmen, bukan level pekerjaan. Seorang direktur bisa memiliki integritas, demikian pula seorang office boy . Orang seperti ini akan memberikan service melebihi standar. Jika dia menjanjikan pekerjaan selesai dalam waktu 1 minggu, maka dalam waktu 3 – 4 hari pekerjaan itu sudah tuntas. 

Puncak kepuasaan bukan terletak pada pujian konsumen atau pimpinan, tapi achievement dari target dan KPI. 

Dimanapun orang yang memiliki integritas jumlahnya minortas. Lawannya adalah orang-orang yang bekerja tanpa idealisme, kecuali untuk mendapatkan upah. Tak jarang orang-orang tersebut sibuk mensiasati proses pekerjaan, bila perlu dengan cara kotor dan berbohong. Sejatinya orang seperti akan menjali hari demi hari penuh beban.  Tidak ada kegembiraan dalam bekerja. “Jika bisa dikerjakan lama, kenapa harus diselesaikan cepat,” ujarnya.

Bekerja sekali lagi bukan sekadar untuk mendapat uang tapi aktualisasi diri. Secara sosial kita dikenal karena profesi atau pekerjaan kita. Kita menyebut identitas pekerjaan kita dengan penuh bangga. Apapun itu. Orang lain pun akan mengingat kita karena kualitas pekerjaan kita. 

“Honor your commitments with integrity.” Les Brown


Minggu, 19 Februari 2023

Yuk Bebaskan Diri Dari Toxic Internet



Interaksi di dunia maya dan dunia nyata berkontribusi kuat terhadap kondisi kesehatan psikis seseorang. Bahkan efek mental illness di sosmed bisa lebih dahsyat dibandingkan di dunia nyata. Seseorang bisa berkomentar kasar kepada seseorang yang tidak dia kenal, hanya gara-gara tidak sepaham dengan pendapat dan perilaku orang tersebut.

Di dunia nyata tidak mudah untuk bergibah, gossip atau menyebarkan berita hoax. Perlu lawan bicara untuk mentransmisikan berita bohong atau ujaran kebencian tersebut. Belum lagi barrier psikologis. Perlu nyali besar dan ekspresi meyakinkan agar “gossip murahan” tersebut laku.

Di dunia maya, cukup blast atau forward ke banyak akun, maka tersebar luaslah “fake news” tersebut. Pelakunya tidak selalu punya motif jahat. Kadang karena kurang referensi, hanya baca judul dan tanpa membaca isi pesan secara kritis langsung saja disebarluaskan. Kontennya cocok dengan preferensinya.

Di dunia modern, sosmed dijadikan sarana untuk connecting people. Kawan komunitas, satu kantor, keluarga, lingkungan, pengajian bahkan teman sekolah. Celakanya konten yang dikirim seringkali tidak sesuai dengan tidak mengindahkan perasaan orang yang kemungkinan membaca pesan tersebut. Contoh what’s up group komunitas motor, kerap disisipi konten politik yang menyerang tokoh politik yang tidak disukainya.

Konten-konten semacam itu disebut toxic internet. Orang yang terdampak bisa resisten atau sebaliknya, menerima sebagai sebuah keniscayaan bahkan diyakini sebagai budaya baru. Hal terakhir inilah yang berbahaya, yakni ketika kita permisif terhadap budaya agresif yang berpotensi melukai hak orang lain.

Solusinya adalah break echo chamber. Ekosistem yang negatif harus diputuskan. Bisa dengan cara memblokir akun-akun negatif atau left group. Intinya, keluar dari algoritma yang menjadikan kita konsumen konten-konten yang tidak baik.

Ada juga yang tetap berada dalam ekosistem tersebut, namun dia melakukan perlawan dengan memproduksi atau memposting konten positif sebagai upaya “imunisasi digital.”

Pilihan terserah kepada Anda. Pada tahap awal, saya akan melakukan imunisasi digital dengan memberikan konten tandingan, namun  jika tidak ada perubahan maka saya abaikan saja. Melihat carut-marut dunia maya kadang diperlukan juga, yang penting bisa menjaga jarak agar tetap waras.

Kamis, 16 Februari 2023

Digital Minimalism



Digital minimalism adalah cara membebaskan diri dari ketergantungan luar biasa pada teknologi digital. Salah satu bentuk penguasaan teknologi digital terhadap kehidupan manusia adalah makin besarnya penggunaan internet dalam kehidupan manusia. 

Menurut laporan APJII dan We Are Social pada tahun 2021, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 200 juta penduduk. Direktur Pemberdayaan Informatika, Bonifasius Wahyu Pudjianto menyebutkan bahwa rata-rata setiap pengguna mengakses internet selama 8 jam 36 menit dalam sehari.

Survei Literasi Digital 2021 oleh Katadata Insight Center (KIC) dan Kominfo menunjukkan bahwa penggunaan internet paling banyak dilakukan pada pukul 19 - 21. Selain pada jam tersebut, yang notabene adalah setelah jam kerja, penggunaan internet terbanyak berikutnya berlangsung pada 7 - 10 pagi, sebanyak 51,1 persen responden memilih waktu ini.

Tingginya penggunaan internet di luar jam kerja bagi saya cukup mengkhawatirkan. Keluarga Indonesia, khususnya di perkotaan tidak lagi menggunakan waktu senggangnya dengan bercengkrama dengan keluarga atau teman, tapi main game, menghabiskan leisure time di dunia maya. 

Lima orang sahabat sepakat untuk hangout kesebuah café, lalu tibalah di tempat yang dituju. Pesan minuman, bercengkrama, sesaat kemudian tenggelam dengan gawai masing-masing. Suami-isteri duduk di ruang keluarga, tidak ngobrol intim tapi asyik bersosial media. Pemandangan seperti ini makin lazim bahkan sudah dianggap sebagai keniscayaan. Walah….

Teknologi itu bak pisau bermata dua. Bisa menolong manusia atau sebaliknya memperbudak tanpa belas kasihan. 

Supaya kita bisa menggunakan teknologi secara bijak, maka perlu lakukan digital minimalism. Periksa HP, lalu audit. Aplikasi apa yang sering digunakan dan bernar-benar bermanfaat. Jika ditemukan aplikasi yang tidak berguna maka segera delete. Jangan takut di cap tidak “gaul” gara-gara tidak menggunakan sebuah aplikasi tertentu. 

Tidak setiap saat juga kita harus memegang HP atau “melek mata” lihat email atau pesan what’s up. Masih banyak kegiatan yang bisa meningkatkan kualitas diri dan hubungan interpersonal. Membaca buku, menulis, olah raga, bermain musik, berkumpul dengan komunitas, silaturahmi dengan keluarga adalah bentuk “pupuk organik” yang dapat membuat hidup kita makin sehat, tumbuh dan berkualitas.

Digital minimalism bukan paham menafikan teknologi digital. Tapi memaksimalkan potensi manusia agar dapat memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. Tanpa sikap kritis tersebut, kita bisa teralienasi dari kehidupan nyata karena terperangkap menjadi budak teknologi. 

Keep healthy …..


Senin, 13 Februari 2023

Flexing, Penyakit Sosial Yang Diidolakan


Flexing alias pamer kekayaan di sosial media kini nyaris diterima sebagai “kewajaran”. Bagi saya, flexing itu “penyakit”. Ia menunjukan kapasitas bukan dengan kualitas dirinya tapi dengan barang mewah agar di cap “sukses”. Dalam kasus berbeda mirip dengan seorang exhibitionist yang mencapai kepuasan ketika dia memamerkan area genitalnya ataupun melakukan masturbasi di depan orang lain.

Sebagai penyakit sosial, flexing kini makin kronis. Seorang pesohor bahkan rela menyewa sebuah Lamborghini lalu diparkir di depan kerumunan wartawan agar dinilai sukses bergelimang harta. Padahal hidupnya susah payah. Menurut pengakuannya, terkadang ia hanya makan dua kali sehari. Itu pun hanya menyantap mie instan. 

Banyak pesohor yang memamerkan outfit dengan harga super fantastis. Satu cincinnya berharga Rp 1 milyar. Padahal dia pakai 10 cincin. Belum terhitung sepatu bernilai ratusan juta rupiah, celana, kemeja, topi dan kacamatanya. Jadi satu kali keluar rumah, ditaksir puluhan milyar rupiah yang menempel di tubuhnya.

Media menyebut dirinya “Sultan atau crazy rich”. Hidup begitu enteng bak lahir dari negeri dongeng. Fenomena ini benar-benar “toxic” bagi generasi muda. Mudah, kaya, jadi idola. Tidak perlu kerja keras. Cukup pamer di sosial media. 

Dulu, orang kaya Eropa di abad 19 pamer kekayaan dengan menyajikan garpu dan sendok perak dalam perjamuan makan para bangsawan. Kini tidak perlu susah payah. Cukup flexing di sosmed miliknya, lalu lahirlah crazy rich dengan segenap halusinasinya. 

Sekali berbohong, teruslah berbohong. Mereka tak ubahnya meminum air laut. Semakin diteguk justru makin kehausan. Akal dan budi pekerti tak lagi mampu mengontrol nafsu hedonisme. Kebahagiaan itu, padahal, terletak dari kemampuan bersyukur akan apa yang kita punya dan rejeki tak selalu berarti harta benda. Bisa juga hidup sehat atau keluarga yang harmonis. 

Tak satupun orang yang mengaku crazy rich ini masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Sang Sultan pun tidak memiliki perusahaan yang dikenal publik seperti group Sinar Mas atau Salim. “The real crazy rich” biasanya menunjukan kapasitas dengan pencapaian kinerja perusahaan atau group, bukan personal achievement. Jadi makin kuatlah kesimpulan saya bahwa fenomena crazy rich ini adalah penyakit sosial yang makin booming di sosial media. 

Kendati crazy rich dicaci karena kelakukan mereka menyakitkan banyak orang, faktanya akun sosmed mereka dibanjiri ribuan hingga jutaan followers. Media pun tak canggung memberi panggung. Sang crazy rich pun akhirnya jadi orang berpenyakit yang diidolakan publik.

Nah lho….


Selasa, 07 Februari 2023

Experience vs Rasa



Kalau kita perhatikan, bisnis kuliner itu bisa dikotakkan dalam dua kubu ekstrem. Kuliner base on experience dan kuliner base on “rasa”. Tempat-tempat yang instagramable seperti kafé yang menjual kopi “kekinian”, dilengkapi wifi gratis adalah contoh tempat kuliner yang menjual “experience”. Menunya lebih nikmat jika dinikmati langsung ditempat (dine in). Beda dengan tempat kuliner yang lebih mementingkan kualitas makanan atau rasa. Misalnya rumah makan padang, Bakmi Golek, Kopi Kenangan, gerai-gerai KFC, MCD, atau warteg. Silahkan dine in, tapi lebih disukai jika drive thru. 

Bisnis kuliner base on experience itu dipastikan lebih mahal dibadingan yang base on “rasa”. Perlu biaya besar untuk membangun tempat usahanya. Tidak mungkin warung ukuran 3 x 3 meter. Lokasinya pun biasanya ditempat-tempat strategis dan mahal. Jadi wajar, jika harga makanan atau minumannya juga mahal. 

Selain investasi dan over head cost-nya mahal, kuliner yang menawarkan experience ini juga rawan bangkrut. Saat pandemi covid -19 dan pemerintah memutuskan untuk memberlakukan PSBB, bisnis model ini banyak yang gulung tikar. Beda dengan rumah makan padang atau KFC. Walau mengalami penurunan omzet, namun tetap eksis. Orderan melalui go food atau grab food tetap jalan. Bahkan saat ini sudah jadi model belanja kaum menengah perkotaan. Di beberapa gerai bahkan bisa menjamin harga pesan online dan makan di tempat dipastikan sama. 

Dari segi omzet, bisnis kuliner base on experience umumnya lebih kecil  dibandingkan yang base on rasa. Rasanya lebih menggiurkan punya gerai kecil kopi Kenangan yang melayani take away dibandingkan punya kafe besar dua lantai yang dijadikan tempat “nongkrong” anak SMA yang merayu pacarnya selama 2 jam, dan ketika closed bill cuma Rp 50,000,-. Wuiiih… ngenes!

Setiap orang punya pilihan model bisnis. Jika semua orang punya cara berpikir yang sama seperti saya, susah juga cari resto atau kafe untuk update status atau bikin konten. Cuma itu tadi, kalau tidak diimbangin rasa makanan yang enak, setlah dua tiga kali kunjungan, konsumen biasanya tidak akan balik. “yang penting gua udah pernah kesana dan foto-foto”. Bisa jadi ada tempat kuliner yang berhasil menggabungkan dua elemen (experience dan rasa) sekaligus dan sukses. Cuma jarang terjadi.

Ah.. tiba-tiba saya teringat rumah makan Sate Maranggi Hj Yetty, Purwakarta. Tempatnya simple, joglo tanpa AC tapi jika weekend ratusan orang datang memadati restoran yang berada di hutan jati itu. Mirip orang hajatan, dan umumnya rombongan. Wuiih cuan pastinya….


Rabu, 01 Februari 2023

Politik Itu Milik Tuan



Tahun politik 2023 orang ramai menggunjingkan arah koalisi partai dan calon presiden dan wakil presiden. Mulai dari perbicangan para cerdik cendikia di layar  kaca hingga obrolan di kedai kopi dan pasar becek. 

Dari sana kita bisa bayangkan bahwa politik itu benar-benar milik elit. Jangankan simpatisan, kader partai pun tak mampu menebak arah kebijakan politik partai yang diusungnya. Isu ekslusif di ruang tertutup. 

Nasdem misalnya, sebagai partai berhaluan nasionalis secara mengejutkan mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presidennya. Publik dan pendukung Nasdem pun terperanjat. Bukan saja karena Anies dilabeling sebagai kelompok kanan – Islam, Nasdem pun secara tegas berada di koalisi pemerintahan Jokowi yang bersebrangan dengan Anies. Sejumlah pengurus partai dan pendukung Nasdem di sejumlah daerah memutuskan untuk keluar partai karena alasan sudah tidak sehaluan lagi. 

Bukan hanya Nasdem, namun arah koalisi partai lain pun sangat sulit ditebak. Semuanya berlangsung secara pragmatis dan cenderung transaksional, “punya apa dan dapat apa”.

Seorang pendukung partai Republik dan Demokrat di Amerika sejak awal sudah bisa memprediksi arah kebijakan partainya, baik mengenai kebijakan perburuhan, perekonomian atau hak asasi manusia. Demikian pula dengan preperensi calon Presidennya. Sulit dibayangkan seorang konservatif seperti Donald Trump bisa berada di Demokrat. Media massa pendukunganya juga akan bersikap militan. CNN tidak mungkin mendukung Partai Republik, demikian pula dengan Fox tidak mungkin berkiblat ke Partai Demokrat. Nah, di Indonesia justru sebaliknya. Media yang semula mati-matian mendukung A pada pemilu berikutnya justru gencar menyerang A karena sang pemilik berubah haluan politik. 

Politik apalagi pemilu memang bukan kuasa rakyat. Stakeholdersnya tetap elit politik. Rakyat tetaplah floating  mass yang bisa diarahkan bahkan “dibakar” sesuai skenario elit..


Mendengarkan Apa Yang Ingin Didengarkan




Pola komunikasi seperti judul di atas dipastikan berlangsung di antara dua pihak atau lebih yang tidak berimbang, tidak jujur dan tidak asertif (komunikasi tanpa memaksakan kehendak apalagi melanggar hak orang lain). 

Pola komunikasi “mendengarkan apa yang ingin didengarkan” terjadi ketika salah satu pihak memiliki kekuasaan yang lebih dominan dibandingan lawan bicaranya. Bisa terjadi di perusahaan, organisasi bahkan di keluarga. Sang pemegang kekuasaan tersebut menggunakan “powernya” agar lawan bicaranya menyampaikan seperti yang ingin dia dengar. Konten informasi pun penuh distorsi. Padahal komunikasi yang sehat adalah “mendengarkan apa yang sebenarnya perlu ia dengar”.

Pola komunikasi “mendengarkan apa yang ingin didengarkan” selamanya berlangsung penuh kepalsuan. “Si penindas” akan seumur hidup tidak puas dan selalu merasa ada yang kurang dari apa yang didengarnya. Sebaiknya “ sang budak” juga seumur hidup akan merasa tertindas. Bisa jadi pihak luar tidak mengetahui pola komunikasi yang sedang berlangsung. Mereka kerap memanipulasinya dengan diselingi tawa dan intonasi yang wajar. 

Komunikasi yang sehat hanya bisa berlangsung diantara orang yang secara psikis sehat. Seorang yang otoriter  tidak bisa memuaskan nafsunya jika dia tidak bertemu dengan orang yang sudi diperbudaknya.

Pesan tidak akan bisa tersampaikan secara sehat jika disertai ancaman dan bentakan. Seorang guru akan terus-menerus memarahi muridnya yang sering datang terlambat hingga sang murid menyadari pentingnya datang lebih awal sehingga dia bisa mempersiapkan diri untuk belajar di sekolah lebih baik dibandingkan terlambat. 

Pola komunikasi yang agresif hanya akan melahirkan kepatuhan bukan kesadaran. Menyebabkan luka dan bukan penerimaan. Pepatah mengatakan Power tends to corrupt.. bahkan untuk komunikasi pun kekuasaan rawan penyalahgunaan..


Clickbait: Anak Haram Yang Diandalkan Media



Sejumlah wartawan menyebut kemunculan clickbait sebagai kematian jurnalisme. Kesimpulan tersebut menurut saya terlalu berlebihan. Clickbait adalah penulisan judul tulisan atau tayangan dengan cara bombastis dan provokatif di era digital. Di era kejayaan media cetak, judul berita semacam ini biasa digunakan jurnalisme kuning atau korban kuning. Misalnya Rakyat Merdeka, Poskota atau Lampu Merah. 

Di masa kejayaannya, media tersebut sangat sukses. Poskota bahkan pernah mengungguli Kompas sebagai koran paling banyak dibaca di Jakarta. Keberhasilan media tersebut akhirnya diikuti perusahaan media lainnya untuk menerbitkan media dengan gaya sama: yellow journalism. Jurnalisme kuning pernah berjaya, tapi media arus utama tetap tidak kehilangan pembacanya.

Istilah ini diciptakan oleh editor New York Press Ervin Wardman, yang mencetuskan istilah "new journalism" dan "nude journalism". Namun pada Januari 1897, ia menggantinya dengan "yellow-kid journalism", yang kemudian disingkat menjadi "jurnalisme kuning" yang dikenal sekarang.

Clickbait jurus jitu untuk meningkatkan pageviews dan traffic website.  Sebetulnya tidak jadi masalah jika judul sesuai dengan isi. Namun yang umumnya terjadi sebaliknya. Penulis tidak peduli jika pembaca kecewa dan menggerutu karena merasa ditipu. Clickbait adalah era ketika missi jurnalisme semula to inform berubah menjadi to be click. 

Dibenci Tapi Dipilih

Penyebutan clickbait atau umpan klik digunakan sejumlah jurnalis untuk merendahkan tulisan yang bombastis dan menyesatkan. Ciri utamanya adalah overpromising dan underdelivering. 

Jujur, saya juga pernah beberapa kali jadi korban clickbait untuk tulisan kesehatan. Misalnya Ini yang terjadi dengan darah anda jika anda meminum….  Tulisan dibuat dalam multi pages. Namun hingga halaman terakhir fakta yang dijanjikan tidak ditampilkan.

Setiap orang punya naluri untuk mengetahui sesuatu. Inilah yang dimanfaatkan para penulis clickbait. Penggunaan clickbait lazim digunakan pada penulisan copy writing di dunia advertising. Model tulisan tersebut tabu untuk diterapkan di jurnalisme publik yang terikat kode etik. 

Merujuk pada perjalanan sejarah jurnalisme kuning maka clickbait adalah fenomena biasa yang terjadi ketika media dirasuki kepentingan komersial (infomersial). Clickbait tidak akan pernah mengeser jurnalisme arus utama. Sebaliknya industri media arus utama pun juga membuka media popular yang menggunakan jurus jurnalisme kuning dan clickbait. 

Sejumlah jurnalis idealis teriak “say no to click bait”. Tapi pertanyaannya media mana yang  tidak pernah menggunakan clickbait? Sekelas CNN pun pernah melakukannya. Clickbait jadi semakin lazim dan perlahan-lahan akan diterima sebagai keniscayaan bisnis sebagaimana media televisi menerima penayangan infotainment dan kisah misteri yang sejak awal menuai pro kontra. 


Senin, 30 Januari 2023

Telat Sadar, Akhirnya Terkapar




Judul di atas adalah ilustrasi ketika kita mengabaikan krisis komunikasi. Umumnya institusi segera merespon jika yang terjadi adalah krisis finansial, kebakaran, terorisme atau bencana alam. Mitigasi krisis di sejumlah perusahaan pun biasanya di terapkan jika terjadi bencana alam atau kebakaran. Padahal hancurnya reputasi perusahaan kerap diawali dengan krisis komunikasi yang mengakibatkan krisis finansial  lalu menggerogori fundamental perusahaan.

Kasus Meikarta yang dibully habis-habisan gara-gara menuntut 18 konsumennya ke meja hijau pasca demo dan menuntut refund atas uang pembelian unit apartemen yang dibelinya. Demikian pula dengan pelaporan pencemaran nama baik yang dilakukan serikat karyawan Garuda kepada youtuber Rius Vernandes pada tahun 2019 juga contoh kesalahan humas korporat dalam merespon keluhan konsumen yang berujung krisis komunikasi.  

Sekedar mengingatkan, Rius Vernandes dalam penerbangan dari Sydney ke Bali dia diberikan menu makanan dalam secarik kertas dan ditulis tangan seadanya. Penumpang lain pun diberikan kertas menu yang sama. Padahal Rius berada di kelas bisnis. Rius merekam dan meng-upload layanan Maskapai Garuda tersebut dalam story videonya. Alih-alih merespon dengan menjanjikan perbaikan layanan, pihak Garuda menerbitkan larangan membuat konten video dan foto di pesawat dan Serikat Karyawan Garuda melaporkan Rius dengan tuduhan penghinaan dan pencemaran nama baik. 

Salah Sejak Diagnosa

Kesalahan praktisi humas Garuda dan Meikarta dimulai sejak mereka melakukan identifikasi masalah. Tahapan ini mirip fase awal dokter ketika mengdianosis keluhan pasiennya. Kesalahan tersebut berujung salah memberikan resep. Akibatnya, penyakit pasien makin akut, bahkan bisa berakibat lebih parah.  Demikian pula dalam kasus Meikarta, Garuda dan banyak kasus kesalahan penanganan keluhan konsumen lainnya.

Kesalahan pada tahap identifikasi awal biasanya berlanjut pada kesalahan dalam analisa dan pilihan strategi penyelesaian masalah. Secara teoritik, setelah melakukan identifikasi dan analisis, seorang praktisi public relation (pr) harus melakukan isolasi masalah dan diakhiri dengan penyampaikan pilihan strategi penyelesaian masalah.

Menurut profesor Deanne Brocato dari Boston College ada 4 respon yang biasanya dilakukan institusi ketika diterpa krisis yakni: apologize, deny, justify atau excuse. 

Kasus Meikarta dan Garuda punya kemiripan. Memilih penyelesaian hukum dalam merespon keluhan konsumennya. Menurut Firsan Nova, PR and law: an uneasy alliance. Tugas lawyer adalah memenangkan kasus hukum kliennya. Sedangkan tugas PR adalah memulihkan citra klien di mata publik.  Henry Surya, Bos KSP Indosurya bebas dari jeratan hukum setelah sebelumnya dituntut jaksa penuntut umum 20 tahun pidana penjara. Meski berhasil lepas dari jeratan hukum namun dimata publik dia tetap dituding bersalah dan merugikan ribuan nasabahnya. 

Menjawab keluhan konsumen dengan tuntutan hukum rawan tudingan anti kritik atau membungkam kritik dengan hukum.  Namun langkah hukum tidak selalu salah. Dalam kasus pembobolan dana nasabah Citibank oleh Senior Relation Manager Citibank Inong Malinda Dee, pemidanaan oleh Manajemen Citibank terhadap Malinda Dee yang diikuti pengembalian dana nasabah secara penuh justru jadi advertorial terbaik sepanjang sejarah Citibank. Demikian pula pemidanaan mantan Kadiv Propam Ferdy Sambo dan mantan Kapolda Sumbar Tedi Minahasa adalah exit strategy tepat bagi institusi Polri. Polri perlahan dapat memperbaiki citra meski demage yang dilakukan oleh kedua perwira tinggi Polri tersebut sangat dahsyat bagi Polri.

Mengaku salah bukan berarti kalah. Sebaliknya bisa menjadi materi peningkatan brand image. Dengan strategi pr yang baik, konsumen yang semula menyerang bisa bantu meng-endorse produk atau layanan perusahaan.  Good experience is best campaign. 

Ada banyak solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan krisis komunikasi. Namun banyak perusahaan yang secara gegabah memutuskan untuk melakukan penyangkalan (denying) dan menuntut konsumennya.  Mereka baru sadar ketika telah terkapar…

 



Selasa, 24 Januari 2023

Everyone can be a public speaker


Statement di atas terinspirasi tagline Air Asia, maskapai terbesar swasta asal Malaysia. Sebagai maskapai low cost carrier, tagline "now everyone can fly"tersebut “nonjok banget”.  Selain low cost, Air Asia sering buat promo. Tungguin aja. Promonya “gila abiz”. 

Buat saya, menjadi public speaker itu bisa profesi, tapi juga bisa merupakan tanggung jawab sosial. Misalnya, seringkali kita dipaksa berpidato di lingkungan RT, RW, kantor, komunitas gereja, masjid, atau komunitas hobi.  Kita dipercaya untuk menjadi berpidato atau menjadi juru bicara karena jabatan paling tinggi, paling tua umurnya atau alasan personal lainnya. Tak elok rasanya kita menolak kepercayaan itu hanya karena grogi, takut ditertawakan atau kendala psikologis lainnya. Aneh memang. Kok takut? Padahal audience-nya adalah keluarga atau kerabat kita sendiri.

Publlic speaking memang menjadi hal yang paling ditakuti di dunia. Survey yang dilakukan oleh The People’s Almanac Book of List terhadap 3000 orang di Amerika mengenai ketakutan terbesar mereka. 630 orang alias 21% menyatakan bahwa public speaking adalah hal yang paling menakutkan. Ketimbang kematian yang berada di posisi ketujuh, sementara public speaking menempati urutan pertama, mengalahkan: ketinggian, serangga, dan hama termasuk bangkrut.

Banyak hal yang menyebabkan timbulnya ketakutan saat berbicara di depan umum, seperti takut salah, takut ditanya dan tidak dapat menjawab, takut lupa, takut audien lebih pintar, sampai takut dipermalukan.

Critical eleven

Dalam dunia penerbangan, ada istilah terkenal yang dinamai critical eleven atau sering juga disebut Plus Three Minus Eight. Istilah critical eleven adalah waktu krisis atau genting di mana kecelakaan pesawat sering kali terjadi, yakni tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan.

Tiga menit pertama digunakan untuk mencari posisi stabil dan mengontrol kecepatan ketika pesawat mulai mengudara. Sementara delapan menit terakhir digunakan untuk menurunkan kecepatan dan menyesuaikan dengan landasan. Selama rentang waktu critical eleven, awak kabin dilarang berkomunikasi dengan kokpit kecuali ada hal darurat dan awak kokpit harus menahan diri dari aktivitas yang tidak terkait dengan kontrol pesawat.

Dalam komunikasi publik, opening dan closing adalah dua hal paling penting  untuk menciptakan pidato atau kata sambutan yang powerfull. Gagal meraih perhatian audien pada pembukaan maka kemungkinan pidato kita akan berlangsung tanpa makna dan perhatian. Demikian pula dengan bagian penutupan. Jika tidak dipersiapkan denga baik, maka audien akan tidak mendapatkan pesan penting dari pidato yang kita sampaikan. 

Teori ini bukan berarti mengesampingkan pentingnya isi pidato. Bagian ini biasanya menjabarkan isi pesan yang dikemas menarik saat pembukaan (opening). 

Pelajarilah bagaimana public speaker dunia seperti Soekarno, Barrack Obama, Larry King menyihir pendengarnya. Namun tidak perlu menirunya. Tetaplah jadi diri sendiri. Komunikasi yang efektif adalah yang berasal dari hati yang jujur….


Senin, 23 Januari 2023

KENAPA HARUS BELAJAR KOMUNIKASI?


 

Kok belajar komunikasi? Kan setiap hari kita bicara? 

Komunikasi dan bicara adalah dua hal yang berbeda. Orang yang berbicara belum tentu sedang berkomunikasi. Contohnya balita usia 1 tahun. Dia sudah bisa bicara annaa… auuuu… imiiii…. Dia bicara dengan orang dewasa tapi tidak terjadi komunikasi. Karena keinginannya tidak dipahami, balita itu marah, lalu nangis. 

Komunikasi kerap dialamatkan sebagaI keahlian dasar yang wajib dikuasi praktisi humas atau sales. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah. 

Sejatinya, communication skill wajib dikuasai setiap orang, apapun profesinya. Bayangkan misalnya seorang guru yang komunikasinya buruk, pelajarannya tidak dipahami, nilai muridnya pasti ‘jeblok’. 

Komunikasi juga sering diartikan berbicara sebanyak mungkin. Pendapat ini mutlak salah. Semakin banhyak bicara justru semakin membingungkan dan pesan semakin kabur, apalagi jika lawan bicara juga melakukan hal yang sama yakni “banyak bicara”. 

Komunikasi tidak sama dengan berbicara

Bicara adalah kemampuan verbal menyampaikan pesan tertentu. Tapi komunikasi masih butuh syarat lain, yakni “mendengarkan” dan “empati” terhadap lawan bicara. Tidak mungkin kita bisa memahami lawan bicara atau audience jika kita tidak punya kemampuan mendengar. Kita pun tidak mungkin bisa membaca situasi jika kita tidak mampu berempati kepada lawan bicara kita. Bahkan dengan adanya empati kita bisa menyampaikan emosi kita secara tepat kepada lawan bicara. 

Komunikasi itu tidak sederhana

“The most important thing in communication is to hear what isn't being said” (Peter F. Drucker).

Tidak membalas sapaan, read pesan tapi tidak reply bukan berarti tidak sedang komunikasi. 

Komunikasi dengan menggunakan email atau chat di telepon seluler bisa jadi mempermudah komunikasi atau sebaliknya, memicu kesalahpahaman. Chat “kenapa?” kerap dimaknai jutek, padahal pemberi pesan menulis sambil tersenyum. 

Komunikasi bukan hal sederhana. Bahasa tubuh kadang lebih akurat dari kata-kata. Kemampuan menyampaikan ekspresi dan membaca tubuh (gesture) juga merupakan kunci sukses dalam berkomunikasi.

Kesalahan mendidik anak

Akar dari kesulitan komunikasi bisa dirunut jauh ke belakang. Setiap orang tua selalu membantu anaknya agar bisa berbicara. Mulai dari mengucapkan kata sederhana, merangkai kata dan akhirnya bisa menyusun kalimat. Targetnya adalah anak cakap berbicara. Bersamaan dengan itu, orang tua pun mengajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung). 

Jarang sekali orang tua mengajarkan anaknya untuk cakap berkomunikasi. Akibatnya, banyak orang dewasa yang kemampuan komunikasinya setara dengan anak usia 10 tahun, hanya cakap berbicara, namun tidak mampu mendengarkan dan memahami lawan bicaranya. Persis seperti anak kecil. Hanya ingin dipahami tapi tidak bisa memahami orang lain. Egosentris!

Syarat komunikasi efektif

Orang tua umumnya mengajarkan anak untuk bicara, tapi tidak mengajarkan anak untuk komunikasi secara benar. Belajar berbicara, belajar mendengarkan, belajar berempati dan mengasihi orang lain. Akibatnya, setelah dewasa, kemampuan bicaranya seperti anak usia 12 tahun, tidak mampu berempat dan mengasihi orang lain. Dua aspek itu penting agar kita bisa merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain, dan memberitahuakan apa yang kita rasakan kepada lawan bicara. Akhirnya orang tersebut tidak bisa membaca situasi, ujungnya, terjebak dalam konflik,

Nah, setelah baca uraian di atas jadi lebih jelas kan? Yuk buat suasana lebih nyaman dan produktif dengan komunikasi yang lebih sehat dan bikin kalian lebih merdeka dan bahagia sebagai manusia… 


Kenapa Depok Disebut Kota Petir?

  Depok tercatat dalam Guinness Book of World Record sebagai kota dengan petir paling ganas di dunia. Dari hasil penelitian Prof. Dr. Ir. Di...