Tampilkan postingan dengan label Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerja. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2024

Attitude Is Everything


Ada kesalahan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni terlalu menekankan pada keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Buktinya, tempat kursus menjamur, sejumlah penyelenggara kursus bahkan menawarkan harga selangit dengan janji peserta mencapai mencapai skor tinggi dan meraih kelulusan. Tapi tidak ada satupun lembaga yang menawarkan jasa pelatihan untuk melahirkan individu yang memiliki sikap, perilaku dan attitude baik dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Mari kita lihat alasan manajemen melakukan PHK terhadap karyawannya. Umumnya karena persoalan attitude. Tidak bertanggung jawab, melakukan tindakan merugian perusahaan, melecehkan karyawan lain dan sebagainya.

Dalam dunia kerja ada 3 kebutuhan dasar yang wajib dimiliki karyawan:

  • 1.     Skill.

Keahlian bisa didapat dari pendidikan formal/ informal, belajar secara tekun dan menjalani praktik kerja. Karyawan juga melengkapi dengan mengurus sertifikasi yang diuji oleh lembaga-lembaga yang memiliki otoritas dibidangnya.

  • 2.     Knowledge

Pengetahuan juga bisa diperoleh dari membaca buku, sekolah, dan berbagai cara lainnya

  • 3.     Attitude

Perilaku dan sikap ini biasanya diperoleh dari komitmen kuat personal. Sekolah biasanya memberikan pendidikan budi pekerti. Tapi komponen angka yang diperoleh dari skill dan knwledege lebih dominan.

Dari 3 komponen dasar itu, attitude menduduki peran paling penting. Skill dan knowledge bisa dipelajari. Tapi attitude adalah perkara sulit yang dibangun dari komitmen kuat individu.

5 Contoh Attidude Yang Baik.

  • 1.     Discipline

Disiplin adalah taat/ patuh terhadap nilai yang dianutnya.

  • 2.     Responsibility

Menjalankan tugas dan tanggung jawab secara sungguh-sungguh. Siap menanggung risiko atas perbuatannya.

  • 3.     Respect

Menghormati diri sendiri, pekerjaan, orang lain dan tim.

  • 4.     Professional

Mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab secara efektif dan efisien

  • 5.     Humble

Murah hati dan senantiasi bersyukur. Individu seperti ini dipastikan ramah terhadap orang lain

Contoh Attitude Buruk Dalam Dunia Kerja:

  • 1.     Tidak antusias
  • 2.     Sering mengeluh
  • 3.     Sering menggosip
  • 4.    Tidak mau bekerjasama dalam tim
  • 5.   Sering mencari alasanya

Kamis, 23 Februari 2023

The Poor Pay More



 

Kemiskinan perkotaan adalah problem ketidakmampuan manajemen perkotaan mengatasi masalah sosial. Penanganan masalah ini butuh waktu panjang, komitmen yang kuat, dan bisa jadi hasilnya tidak semegah membangun stadion olah raga, bandara atau jalan tol. Saya tidak tahu, apakah ada pemerintah daerah di Indonesia yang menetapkan penanganan masalah sosial sebagai priotas utama dibandingkan pembangunan infrastruktur? Kalau dilihat dari alokasi anggaran, tidak satupun daerah di Indonesia yang menetapkan penanganan masalah sosial sebagai prioritas.

DKI Jakarta, APBD 2023 difokuskan pada tiga program prioritas dengan alokasi sebesar 41,27 persen APBD melalui belanja dan penyertaan modal daerah, yaitu pengendalian banjir, penanganan kemacetan dan antisipasi dampak penurunan pertumbuhan ekonomi.

Pada program ke-3, memang terselip program bantuan keuangan untuk lansia, disabilitas, pendidikan dan anak jalanan. Cukup menggembirakan, namun jumlahnya kecil dan merupakan bantuan langsung tunai, bukan sesuatu yang struktural dan meminimalisir jumlah orang miskin di perkotaan.

Kesimpulan saya ini pasti ditentang keras para birokrat. Prioritas utama Jakarta adalah banjir dan kemacetan lalu lintas, baru penanggulangan dampak ekonomi. Saya setuju, namun dengan angka APBD sebesar Rp 83,7 trilyun, Pemda DKI memiliki kemampuan untuk pemberdayaan sektor UMKM dan rumah murah. Ditambah dengan upaya kreatif memberdayakan swasta untuk menggelontorkan dana CSR kepada hal yang bersifat substansial bagi pengentasan kemiskinan.

Berapa jumlah orang miskin di Jakarta? Tidak ada angka statistik yang jelas. Angka resmi pemerintah dipastikan tidak valid. Jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan tol, pinggir rel kereta api, bantaran sungai dan di belakangan gedung-gedung bertingkat dipastikan ratusan ribu jiwa. Silahkan anda cek di kolong jembatan tol rawa bebek exit tol Sunda Kelapa, kolong tol tongkol dan Krapu, Pejagalan, pinggir rel Kampung Dao Mangga Dua, Tanah Merah dan ratusan slums area di Jakarta.

Sulit bagi mereka untuk keluar dari jebakan kemiskinan struktural dan kultural. Sebagian dari mereka adalah generasi kedua dan ketiga. Ironisnya banyak yang tidak memiliki dokumen kependudukan sehingga tidak bisa masuk sekolah atau mendapatkan fasilitas kesehatan (BPJS) atau rumah murah. Inilah yang saya maksud sebagai kemiskinan struktural.

Tidak mudah untuk mengajak mereka untuk keluar dari gurita kemiskinan. Banyak dari orang dewasa yang fatalistik. Dunia begitu buram. Tidak ada masa depan. Dunia penuh ketidakadilan dan mereka menilai dirinya sebagai komunitas lemah yang selalu diinjak. Kemiskinan secara kultural seperti ini kerap diwariskan ke anak-anak dalam bentuk larangan untuk bersekolah karena toh nantinya cuma jadi pemulung, pengamen, pengemis, tukang parkir, PSK, atau penjahat kelas teri.

Kehidupan di slums area adalah kehidupan yang eksploitatif. Model kehidupan seperti ini paling disukai oleh rentenir dan preman. Warga butuh uang cepat, tapi tidak punya akses ke bank atau koperasi. Lembaga seperti Kelurahan, RW, RT tidak bisa masuk mereka karena mereka kategori penduduk liar yang bisa jadi nomaden dari satu kolong jembatan ke kolong jembatan lainnya. Dalam kondisi minim proteksi sosial inilah premanisme menggurita. Satu petak gubuk 3 x 3 m2 disewakan preman Rp 300.000/ bulan. Biaya MCK lain lagi. Makin padat sebuah kawasan. Makin senanglah pemilik bisnis MCK. The poor pay moore. Akibatnya mereka buang hajat sembarang. Penyakit pun menular semakin liar.

Fokus perhatian saya adalah bagaimana menyelamatkan nasib anak-anak. Sejak kecil diberdayakan sebagai pemulung dan pengamen, sementara orang tua duduk di rumah menunggu setoran. Human trafficking merajalela dalam bentuk penyewaan anak, penjualan anak di bawah umur oleh orang dewasa atau teman. Jangan salah, saya pernah meilihat seorang anak remaja perempuan di Jembatan Tiga Jakarta Utara menjual kawannya sendiri.

Inilah harga yang harus dibayar jika kita menyebut mereka sebagai penyandang penyakit sosial. Treatmentnya terlalu menyederhanakan masalah. DIrazia, dibina, lalu kambuh lagi. Kenapa? Akar masalahnya, yakni kemiskinan, tidak diatasi.

Selasa, 21 Februari 2023

Hormati Komitmen Anda Dengan Integritas





Sebagian besar hidup itu dihabiskan untuk bekerja. Alangkah indahnya jika pekerjaan yang kita lakukan adalah bagian dari aktualisasi diri. Apalagi jika kita merasa “kerja adalah hobi yang dibayar”. 

Malangnya, jika kita melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai. Mau cari kerja lain, tapi tidak ada lowongan. Hari demi hari dilalui dengan penuh keterpaksaan. Kerja demi untuk mendapatkan uang. Tidak ada prestasi dan kepuasan batin. 

Orang yang bekerja maksimal bahkan menjadikan pekerjaan sebagai identitas diri, misalnya Bang Dedi builder motor, Bang Roni penjahit top di Bekasi, atau Iwan Suhaya pelukis naturalis yang dikenal dengan lukisan satwanya dan lain sebagainya. Orang-orang tersebut umumnya memiliki faktor penting yang menunjang kesuksesannya yakni integritas. 

Orang yang memiliki integritas melakukan pekerjaan secara maksimal, baik diawasi oleh pimpinan/ client atau sedang bekerja sendiri. Dia punya standar tinggi dalam bekerja. Sejatinya real boss orang tersebut adalah standar yang dia tetapkan sendiri, Orang seperti ini tidak perlu “cari muka”. Pekerjaan baginya adalah “karya seni”. 

Integritas merupakan komitmen, bukan level pekerjaan. Seorang direktur bisa memiliki integritas, demikian pula seorang office boy . Orang seperti ini akan memberikan service melebihi standar. Jika dia menjanjikan pekerjaan selesai dalam waktu 1 minggu, maka dalam waktu 3 – 4 hari pekerjaan itu sudah tuntas. 

Puncak kepuasaan bukan terletak pada pujian konsumen atau pimpinan, tapi achievement dari target dan KPI. 

Dimanapun orang yang memiliki integritas jumlahnya minortas. Lawannya adalah orang-orang yang bekerja tanpa idealisme, kecuali untuk mendapatkan upah. Tak jarang orang-orang tersebut sibuk mensiasati proses pekerjaan, bila perlu dengan cara kotor dan berbohong. Sejatinya orang seperti akan menjali hari demi hari penuh beban.  Tidak ada kegembiraan dalam bekerja. “Jika bisa dikerjakan lama, kenapa harus diselesaikan cepat,” ujarnya.

Bekerja sekali lagi bukan sekadar untuk mendapat uang tapi aktualisasi diri. Secara sosial kita dikenal karena profesi atau pekerjaan kita. Kita menyebut identitas pekerjaan kita dengan penuh bangga. Apapun itu. Orang lain pun akan mengingat kita karena kualitas pekerjaan kita. 

“Honor your commitments with integrity.” Les Brown


Kenapa Depok Disebut Kota Petir?

  Depok tercatat dalam Guinness Book of World Record sebagai kota dengan petir paling ganas di dunia. Dari hasil penelitian Prof. Dr. Ir. Di...